Pilkada
Jakarta semakin Panas, bumbu-bumbu “peperangan” pun terjadi, Paling terlihat
terjadi saling sahut dan saling sindir antara Pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi
Ramli dengan Pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Menurut Saya
ketimbang saling sindir dan saling perang urat syaraf yang notabene
menghabiskan energy lebih baik terus memperjelas kerangka kerja yang berguna
untuk Masyarakat Jakarta, demikian pula Pasangan Alex Noerdin yang sahut
menyahut dengan Pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli, Saya katakan lagi
semuanya akan menghabiskan energi. Sebaiknya semua Kandidat FOKUS membuat
program kerja yang Rasional agar rakyat Jakarta punya pilihan tepat dalam
Pilkada DKI Jakarta 2012 11 Juli mendatang.
Saya justru tertarik dengan Pasangan Hidayat
Nurwahid – Didik J Racbini, Pasangan Faisal Basri – Biem Benyamin dan Pasangan
Hendardji – Riza, tak terlihat persinggungannya dengan kandidat lain. Memang
seharusnya lah semua kandidat membangun kompetisi bersih untuk Indonesia lebih
baik dimulai dari Pilkada DKI Jakarta.
Dua
Paragraf tadi merupakan pembuka untuk ulasan kita kali ini. Saya tetap
konsisten meneruskan temuan Saya sebagaimana tulisan Saya sebelumnya “Inilah Pemenang Pilkada DKI Jakarta 2012 (Sebuah Temuan)”
, pijakan Penulis tetap pada temuan tersebut, tidak lebih.
Dari pijakan itulah Fauzi Bowo sudah dibahas, Joko
Widodo juga sudah dibahas. Kali ini kita akan membahas Hidayat Nurwahid.
Sebelum Saya teruskan, Sejak Saya menulis tentang Pilkada DKI Jakarta 2012 ini
banyak pendapat orang tentang Saya, ada yang bilang pendukung HNW-Didik, ada
yang bilang mendukung Foke-Nachrowi, ada yang bilang pendukung Faisal – Biem,
dan yang terakhir Saya dibilang mendukung Jokowi-Ahok. Saya tidak peduli dengan
komentar Anda. Penulis memaparkan apa yang peru dipaparkan agar menjadi
referensi untuk warga Jakarta dalam menentukan pilihan pada Rabu, 11 Juli 2012
mendatang.
Baiklah,
Dalam temuan Penulis ditulisan “Inilah Pemenang Pilkada
DKI Jakarta”, Google.com menempatkan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini menjadi kandidat yang paling kuat dan
berpeluang besar masuk ke putaran kedua selain Pasangan Alex Noerdin –
Nono Sampono. (Setelah Pembahasan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini,
kita akan mengulas Alex Noerdin – Nono Sampono) di Artikel selanjutnya-Pen).
Temuan
Saya yang menempatkan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini diurutan teratas
cocok juga dengan hasil Survey Laboratorium FISIP Universitas Nasional (UNAS)
bersama MADANI Institute sebagaimana diberitakan KOMPAS.com. Pasangan Hidayat –
Didik J Rachbini menurut UNAS memiliki elektabilitas tinggi daripada kandidat
lainnya.
“Selain terpilih sebagai yang paling populer,
Hidayat-Didik juga berhasil mendapat persentase dukungan terbesar dari sisi
elektabilitas,” kata Firdaus Syam, ketua Tim Peneliti UNAS-Madani
Institute dalam paparan hasil survei di Blok III Kampus UNAS, Pejaten, Jakarta
Selatan, Rabu (2/5/2012, Kompas.com). Hasil survei UNAS-Madani Institute ini
cukup berbeda dengan dua hasil survei sebelumnya yang menempatkan pasangan
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli di posisi teratas. Dalam survei kali ini, Foke-Nara
tidak saja berhasil dilampaui Hidayat-Didik, tapi juga oleh pasangan yang
diusung PDIP-Gerindra Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama. (Kompas.com),
Itu
jika PILKADA dilangsungkan pada Bulan Mei 2012 ini. Jika Tim Sukses Hidayat –
Didik J Rachbini konsisten menjalankan program-program sosialiasinya kondisi
ini bisa dipertahankan dan terus meningkat hingga 11 Juli 2012 mendatang,
walaupun untuk menang dalam satu putaran sangat sulit paling tidak perkiraan
Saya dari temuan kemarin kemungkinannya masuk ke Putaran Kedua Pilkada DKI
Jakarta.
Apa
Saja yang menjadi kekuatan Pasangan yang didukung oleh PKS-PAN ini ? Kita akan ulas bersama-sama.
Mesin
Politik yang Solid
Untuk
beberapa Pilkada Di Indonesia, Mesin Politik PKS melalui kader-kader Solid ini
cukup berhasil, sehingga sangat tidak mungkin kader terbina PKS ini membelot
dari keputusan Partai terlebih saat ini yang dicalonkan adalah kader terbaik
PKS yang pernah menjabat Presiden PKS selama dua periode. Pengaruh Hidayat
Nurwahid setelah Syeikh Tarbiyah Rahmat Abdullah sangat kuat.
Penulis
pastikan PKS akan menguatkan barisan relawan siap turun kapanpun dan dimanapun
, Hidayat Nurwahid menjelaskan “PKS
merupakan partai solid dimana kadernya terus memberikan dukungan serta
dikuatkan dengan struktur di tingkat RT/RW, maka survei yang dilakukan
merupakan survei yang tepat,” katanya sebagaimana diberitakan
wartakotalive.com.
Saat
ini sebagaimana diberitakan media sudah ada 100 ribu relawan yang akan
memenangkan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini dengan Program Ketuk Sejuta
Pintu di Jakarta.
Kontrak
Politik & Dukungan Tokoh
Setelah
Tokoh Dalang Ki Manteb Sudarsono sebagai perwakilan etnis Jawa di Jakarta
memberikan dukungan secara terang-terangan, kemudian Tokoh Thionghoa Muslim Ali
Karim Oey juga memberika dukungan kepada Hidayat Nurwahid – Didik J Racbini.
Sebagaimana diberitakan oleh KOMPAS.com bahwa Akhir April lalu Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ali
Karim Oeiy mendatangi markas kandidat calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur
Wahid di kawasan Buncit, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan Ali menyatakan selain
sosok sederhana, calon gubernur ini bukan orang yang haus kekuasaan dan dia
dicalokan oleh PKS, bukan mengajukan diri.
“Saya bersahabat dengan Pak Hidayat kan sudah
lama dan orang banyak tahu itu. Sebagai teman dekat, saya menyampaikan beberapa
usulan demi kemajuan Jakarta,” ujar Ali seperti dilansir Antara.
(kompas.com)
Kemudian
pernyataan dukungan juga disampaikan oleh KH. Solahudin Wahid (Gus Solah) adik
kandung Alm Gusdur kepada Hidayat – Didik ketika pelaksanaan program Dialog
dengan FOPPI.
Kompas
memberitakan Gus Solah menyampaikan “Saya
yakin kedua orang ini punya visi kuat soal pedagang pasar. Terutama Pak Didik,
seorang ekonom yang tentu mengerti bagaimana cara meningkatkan kehidupan
ekonomi pedagang pasar,” (Kompas)
Hidayat
& Kehidupan Religius
Faktor
“Spritual” ini juga bisa menjadi magnet penting untuk pasangan Hidayat Nurwahid
– Didik J Rachbini ini, dengan kondisi ini Penulis pastikan kedekatan dengan
para Ulama, Habaib, Masjid dan Majlis Ta’lim bukan hal yang asing lagi.
Kebiasaan mengisi ta’lim,
lulusan madinah, dan Hafiz Qur’an juga merupakan nilai yang tak tergantikan
dalam rasio pemilih dikalangan masyarakat yang aktif di pengajian,majlis ta’lim
dan majlis zikir.
Sebagaimana
tulisan Saya sebelumnya masyarakat Jakarta yang dihuni etnis asli betawi dan
sunda ini sangat dekat dengan nilai-nilai religius, hal ini cukup kita lihat
dari sinetron-seniteron yang ada TV Nasional kita dengan kebanyakan latar
belakang betawi, sebut saja Sinetron Si Doel Anak Gedongan, Tendangan Si Madun,
Jebe, Islam KTP, dan Sinetron-sinetron lainnya. Sinetron Para Pencari Tuhan
(PPT) yang dilakonkan Deddy Mizwar bisa dijadikan representasi kehidupan
masyarakat muslim betawi di Jakarta.
Kampanye
Dengan Pendekatan Akar Budaya
Penulis
melihat, hampir semua Pilkada di Indonesia. PKS dalam hal ini selalu
memperhatikan budaya setempat, jika di Jogja maka akan sangat dekat dengan
Jogja, di Jawa Baratpun sama dan terlebih di Jakarta. Sebut Saja misalnya
Kemenangan HADE 2008 yang lalu, Selain faktor tumpahan suara dari membelotnya
dukungan suara terhadap Danny Setiawan, cara kampanye HADE 2008 menurut Saya
sangat cerdas, salah satunya mendekatkan kandidat dengan akar budaya Sunda dan
PERSIB.
Coba
Anda lihat bagaimana latar belakang warna yang digunakan oleh Pasangan HADE
2008, full warna biru karena biru adalah warna Bandung. Ada sebuah JOKE yang
penting di Bandung itu seperti ini :
Jika
ingin tinggal di Bandung ada 3 syarat : 1) Bisa Berbahasa Sunda 2) Senang Pada
Goyang Golek dan 3) Wajib Mendukung Persib. Biru adalah Persib dan Persib
adalah Bandung. Pendekatan kontrak politik dengan bobotoh dan vikingpun menjadi
penguat pasangan HADE di tahun 2008. Sederhananya begini, dimata orang-orang bandung
kalau lihat biru itu sangat senang sekali, mau kalah mau menang tetap Persib.
Warna dasar Pasangan HADE waktu itu adalah Biru
Nah,
ini juga terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2012, bahkan sebelumnya di Pilkada DKI
Jakarta 2007 pun Pasangan Adang Dorojatun – Dani Anwar pun menggunakan bendera
dan warna Orange sebagai representasi dari Jackmania dan Persija. Pendekatan
budaya ini penting, ulasan ini mirip dengan HADE diatas, pasanganHidayat Nurwahid – Didik J Rachbini perlu
mempertahankan warna orange dan batiknya ini sampai kepada “Kertas Suara
Pencontrengan” jika ingin berlanjut di putaran kedua atau menang dalam satu
putaran Pilkada nanti. Sama dengan Bandung tadi, bagi warga
Jakarta, Orange adalah PERSIJA dan PERSIJA adalah Jakarta.
Menurut
Saya Tim Sukses PKS Harus Konsisten dengan Materi Gambar Kampanye, Jika merujuk
ke HADE 2008 baik sebelum ada no urut atau sudah ada konsepnya tetap sama.
Terlebih nanti ketika sudah ada No Urut maka harus konsisten hingga ke Gambar
Pencontrengan.
Budaya
lainnya yang dijadikan Pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini adalah
Batik, hal inipun menurut penulis hal cerdas dan tepat untuk dilakukan karena
batik adalah budaya Nasional dan Batik “Ayo Beresin Jakarta” mengangkat corak
batik asli betawi atau batik asli Jakarta.
Ada
satu hal yang perlu Saya ingatkan untuk Tim Sukses Hidayat Nurwahid – Didik J
Rachbini adalah selain pendekatan budaya “SEPAKBOLA” tadi diatas, dan budaya
asli Jakarta lainnya. Ada satu hal yang luput dari pelajaran orang lain soal
kemenangan HADE ditahun 2008, kajian Saya salah satu budaya daerah yang
diangkat oleh Pasangan HADE ditahun 2008 adalah lagu-lagu kampanye yang bernada
“Sunda” sebagai budaya asli Jawa Barat.
Lagu HADE Pisan ini menggebrak dan memang enak
didengar oleh warga Jawa Barat waktu itu, sangat familiar dan menggugah orang
untuk menjatuhkan pilihan. Hal ini pula lah menurut Saya yang menginspirasi
pasangan DADA-AYI pada Pilkada Walikota Bandung tahun 2008 yang lalu setelah
Pilkada Gubernur. Bahkan Dada-Ayi membuat satu Album yang berjudul “DA DA DA”
yang dinyanyikan Doel Sumbang dan diputar hampir tiap hari di TV Lokal Bandung.
Hade Memang dan kemudian Dada-Ayi juga memenangkan Pilkada waktu itu.
Jika
melihat kreatifitas Tim Sukses Hidayat – Didik sudah lumayan bagus
pendekatan seni dan budayan-nya cuma menurut Saya masih belum kuat “rasa”
budaya betawinya. Harus ada lagi lagu-lagu yang ada unsur “Pantun” dan Bahasa
betawinya. Saran Penulis untuk Tim
Sukses Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini bisa membuat Iklan TV atau lagu-lagu
yang bercorak bahasa betawi. Mengandung unsur Pantun dan bahasa betawi
agar lebih terasa kental budayanya. Seperti lagu-lagu yang pernah dinyanyikan
oleh Alm Benyamin S.
Rekam
Jejak Kandidat Hidayat Nurwahid – Didik J Racbini
Faktor
lain terkait meningkatnya elektabilitas Hidayat Nurwahid ini adalah soal rekam jejak positif dan selama ini
dikenal sebagai tokoh Nasional dengan integritas moral yang baik. Apalagi
ukuran ini masih menjadi salah satu standar penilaian dalam masyarakat agamis
seperti di Indonesia.
“Keduanya juga unggul dalam hal moral dan
watak. Fenomena ini menyangkut sesuatu yang baku di masyarakat dan ini kemudian
menjadi harapan masyarakat yang ingin Jakarta menjadi lebih baik,”
papar Firdaus (Kompas.com)
Hal-Hal yang perlu diperhatikan Pasangan Hidayat Nurwahid –Didik J
Rachbini antara lain :
Sosialisasi
Program Kerja Secara Detail & Kontrak Politik
Jakarta
adalah masyarakat yang sudah begitu banyak etnisnya dan begitu plural, selain
faktor figuritas, ketokohan maka yang perlu ditambahkan adalah Isu program
kerja yang rasional. Secara ketokohan dan kebersihan dari isu-isu negative
pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini sudah lengkap, dua-duanya tokoh
Nasional dan dikenal masyarakat secara luas. Perlu dipertajam lagi detail
program kerja.
Walaupun
Indonesia dalam hal ini Jakarta mungkin saja belum bisa terlepas dari kelompok
masyarakat yang cenderung mendukung sosok yang dicitrakan terzalimi atau
korban. Pemilih di Indonesia disebut sangat menggandrungi melodrama dimana
siapa yang bisa menciptakan “tangisan atau keharuan” dialah yang dapat merebut
hati pemilih. Maka tidak heran buat penulis jika ada kandidat-kandidat
memunculkan diri mereka terzalimi supaya mendapatkan “Tangisan dan
Keharuan”. Tapi masa-masa
sepertinya dari hari kehari mulai terkikis dari Jakarta, Masyarakat semakin
menyandarkan keputusannya pada dua hal : Rasionalitas Program Kerja dan
Spritualitas Kandidat yang akan dipilih.
Inilah beberapa kritik dan Saran untuk
Hidayat-Didik, Jika pendukung Hidayat – Didik berusaha untuk memenangkan satu
putaran PILKADA DKI Jakarta ini sepertinya kerja kerasnya bukan lagi 24 jam
tetapi lebih dari itu, tetapi melihat kekuatan merata Saya melihat PILKADA DKI
Jakarta akan berlangsung dua putaran, Tetapi mungkinkah Hidayat Nurwahid –
Didik J Rachbini memenangkan Pilkada dalam 1 putaran? Mungkin saja jika hal-hal
yang Penulis urai diatas ditingkatkan terus menerus hingga tanggal
pencontrengan. Kita berharap Pemimpin yang terbaik dari ALLAH Swt yang
menjadi Pemimpin. Kita lihat Saja 11 Juli 2012 mendatang. Sumber


























