Minggu, 06 Januari 2013
Minggu, 20 Mei 2012
Pilkada DKI 2012, Hidayat – Didik Menang 1 Putaran?
Pilkada
Jakarta semakin Panas, bumbu-bumbu “peperangan” pun terjadi, Paling terlihat
terjadi saling sahut dan saling sindir antara Pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi
Ramli dengan Pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Menurut Saya
ketimbang saling sindir dan saling perang urat syaraf yang notabene
menghabiskan energy lebih baik terus memperjelas kerangka kerja yang berguna
untuk Masyarakat Jakarta, demikian pula Pasangan Alex Noerdin yang sahut
menyahut dengan Pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli, Saya katakan lagi
semuanya akan menghabiskan energi. Sebaiknya semua Kandidat FOKUS membuat
program kerja yang Rasional agar rakyat Jakarta punya pilihan tepat dalam
Pilkada DKI Jakarta 2012 11 Juli mendatang.
Saya justru tertarik dengan Pasangan Hidayat
Nurwahid – Didik J Racbini, Pasangan Faisal Basri – Biem Benyamin dan Pasangan
Hendardji – Riza, tak terlihat persinggungannya dengan kandidat lain. Memang
seharusnya lah semua kandidat membangun kompetisi bersih untuk Indonesia lebih
baik dimulai dari Pilkada DKI Jakarta.
Dua
Paragraf tadi merupakan pembuka untuk ulasan kita kali ini. Saya tetap
konsisten meneruskan temuan Saya sebagaimana tulisan Saya sebelumnya “Inilah Pemenang Pilkada DKI Jakarta 2012 (Sebuah Temuan)”
, pijakan Penulis tetap pada temuan tersebut, tidak lebih.
Dari pijakan itulah Fauzi Bowo sudah dibahas, Joko
Widodo juga sudah dibahas. Kali ini kita akan membahas Hidayat Nurwahid.
Sebelum Saya teruskan, Sejak Saya menulis tentang Pilkada DKI Jakarta 2012 ini
banyak pendapat orang tentang Saya, ada yang bilang pendukung HNW-Didik, ada
yang bilang mendukung Foke-Nachrowi, ada yang bilang pendukung Faisal – Biem,
dan yang terakhir Saya dibilang mendukung Jokowi-Ahok. Saya tidak peduli dengan
komentar Anda. Penulis memaparkan apa yang peru dipaparkan agar menjadi
referensi untuk warga Jakarta dalam menentukan pilihan pada Rabu, 11 Juli 2012
mendatang.
Baiklah,
Dalam temuan Penulis ditulisan “Inilah Pemenang Pilkada
DKI Jakarta”, Google.com menempatkan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini menjadi kandidat yang paling kuat dan
berpeluang besar masuk ke putaran kedua selain Pasangan Alex Noerdin –
Nono Sampono. (Setelah Pembahasan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini,
kita akan mengulas Alex Noerdin – Nono Sampono) di Artikel selanjutnya-Pen).
Temuan
Saya yang menempatkan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini diurutan teratas
cocok juga dengan hasil Survey Laboratorium FISIP Universitas Nasional (UNAS)
bersama MADANI Institute sebagaimana diberitakan KOMPAS.com. Pasangan Hidayat –
Didik J Rachbini menurut UNAS memiliki elektabilitas tinggi daripada kandidat
lainnya.
“Selain terpilih sebagai yang paling populer,
Hidayat-Didik juga berhasil mendapat persentase dukungan terbesar dari sisi
elektabilitas,” kata Firdaus Syam, ketua Tim Peneliti UNAS-Madani
Institute dalam paparan hasil survei di Blok III Kampus UNAS, Pejaten, Jakarta
Selatan, Rabu (2/5/2012, Kompas.com). Hasil survei UNAS-Madani Institute ini
cukup berbeda dengan dua hasil survei sebelumnya yang menempatkan pasangan
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli di posisi teratas. Dalam survei kali ini, Foke-Nara
tidak saja berhasil dilampaui Hidayat-Didik, tapi juga oleh pasangan yang
diusung PDIP-Gerindra Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama. (Kompas.com),
Itu
jika PILKADA dilangsungkan pada Bulan Mei 2012 ini. Jika Tim Sukses Hidayat –
Didik J Rachbini konsisten menjalankan program-program sosialiasinya kondisi
ini bisa dipertahankan dan terus meningkat hingga 11 Juli 2012 mendatang,
walaupun untuk menang dalam satu putaran sangat sulit paling tidak perkiraan
Saya dari temuan kemarin kemungkinannya masuk ke Putaran Kedua Pilkada DKI
Jakarta.
Apa
Saja yang menjadi kekuatan Pasangan yang didukung oleh PKS-PAN ini ? Kita akan ulas bersama-sama.
Mesin
Politik yang Solid
Untuk
beberapa Pilkada Di Indonesia, Mesin Politik PKS melalui kader-kader Solid ini
cukup berhasil, sehingga sangat tidak mungkin kader terbina PKS ini membelot
dari keputusan Partai terlebih saat ini yang dicalonkan adalah kader terbaik
PKS yang pernah menjabat Presiden PKS selama dua periode. Pengaruh Hidayat
Nurwahid setelah Syeikh Tarbiyah Rahmat Abdullah sangat kuat.
Penulis
pastikan PKS akan menguatkan barisan relawan siap turun kapanpun dan dimanapun
, Hidayat Nurwahid menjelaskan “PKS
merupakan partai solid dimana kadernya terus memberikan dukungan serta
dikuatkan dengan struktur di tingkat RT/RW, maka survei yang dilakukan
merupakan survei yang tepat,” katanya sebagaimana diberitakan
wartakotalive.com.
Saat
ini sebagaimana diberitakan media sudah ada 100 ribu relawan yang akan
memenangkan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini dengan Program Ketuk Sejuta
Pintu di Jakarta.
Kontrak
Politik & Dukungan Tokoh
Setelah
Tokoh Dalang Ki Manteb Sudarsono sebagai perwakilan etnis Jawa di Jakarta
memberikan dukungan secara terang-terangan, kemudian Tokoh Thionghoa Muslim Ali
Karim Oey juga memberika dukungan kepada Hidayat Nurwahid – Didik J Racbini.
Sebagaimana diberitakan oleh KOMPAS.com bahwa Akhir April lalu Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ali
Karim Oeiy mendatangi markas kandidat calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur
Wahid di kawasan Buncit, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan Ali menyatakan selain
sosok sederhana, calon gubernur ini bukan orang yang haus kekuasaan dan dia
dicalokan oleh PKS, bukan mengajukan diri.
“Saya bersahabat dengan Pak Hidayat kan sudah
lama dan orang banyak tahu itu. Sebagai teman dekat, saya menyampaikan beberapa
usulan demi kemajuan Jakarta,” ujar Ali seperti dilansir Antara.
(kompas.com)
Kemudian
pernyataan dukungan juga disampaikan oleh KH. Solahudin Wahid (Gus Solah) adik
kandung Alm Gusdur kepada Hidayat – Didik ketika pelaksanaan program Dialog
dengan FOPPI.
Kompas
memberitakan Gus Solah menyampaikan “Saya
yakin kedua orang ini punya visi kuat soal pedagang pasar. Terutama Pak Didik,
seorang ekonom yang tentu mengerti bagaimana cara meningkatkan kehidupan
ekonomi pedagang pasar,” (Kompas)
Hidayat
& Kehidupan Religius
Faktor
“Spritual” ini juga bisa menjadi magnet penting untuk pasangan Hidayat Nurwahid
– Didik J Rachbini ini, dengan kondisi ini Penulis pastikan kedekatan dengan
para Ulama, Habaib, Masjid dan Majlis Ta’lim bukan hal yang asing lagi.
Kebiasaan mengisi ta’lim,
lulusan madinah, dan Hafiz Qur’an juga merupakan nilai yang tak tergantikan
dalam rasio pemilih dikalangan masyarakat yang aktif di pengajian,majlis ta’lim
dan majlis zikir.
Sebagaimana
tulisan Saya sebelumnya masyarakat Jakarta yang dihuni etnis asli betawi dan
sunda ini sangat dekat dengan nilai-nilai religius, hal ini cukup kita lihat
dari sinetron-seniteron yang ada TV Nasional kita dengan kebanyakan latar
belakang betawi, sebut saja Sinetron Si Doel Anak Gedongan, Tendangan Si Madun,
Jebe, Islam KTP, dan Sinetron-sinetron lainnya. Sinetron Para Pencari Tuhan
(PPT) yang dilakonkan Deddy Mizwar bisa dijadikan representasi kehidupan
masyarakat muslim betawi di Jakarta.
Kampanye
Dengan Pendekatan Akar Budaya
Penulis
melihat, hampir semua Pilkada di Indonesia. PKS dalam hal ini selalu
memperhatikan budaya setempat, jika di Jogja maka akan sangat dekat dengan
Jogja, di Jawa Baratpun sama dan terlebih di Jakarta. Sebut Saja misalnya
Kemenangan HADE 2008 yang lalu, Selain faktor tumpahan suara dari membelotnya
dukungan suara terhadap Danny Setiawan, cara kampanye HADE 2008 menurut Saya
sangat cerdas, salah satunya mendekatkan kandidat dengan akar budaya Sunda dan
PERSIB.
Coba
Anda lihat bagaimana latar belakang warna yang digunakan oleh Pasangan HADE
2008, full warna biru karena biru adalah warna Bandung. Ada sebuah JOKE yang
penting di Bandung itu seperti ini :
Jika
ingin tinggal di Bandung ada 3 syarat : 1) Bisa Berbahasa Sunda 2) Senang Pada
Goyang Golek dan 3) Wajib Mendukung Persib. Biru adalah Persib dan Persib
adalah Bandung. Pendekatan kontrak politik dengan bobotoh dan vikingpun menjadi
penguat pasangan HADE di tahun 2008. Sederhananya begini, dimata orang-orang bandung
kalau lihat biru itu sangat senang sekali, mau kalah mau menang tetap Persib.
Warna dasar Pasangan HADE waktu itu adalah Biru
Nah,
ini juga terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2012, bahkan sebelumnya di Pilkada DKI
Jakarta 2007 pun Pasangan Adang Dorojatun – Dani Anwar pun menggunakan bendera
dan warna Orange sebagai representasi dari Jackmania dan Persija. Pendekatan
budaya ini penting, ulasan ini mirip dengan HADE diatas, pasanganHidayat Nurwahid – Didik J Rachbini perlu
mempertahankan warna orange dan batiknya ini sampai kepada “Kertas Suara
Pencontrengan” jika ingin berlanjut di putaran kedua atau menang dalam satu
putaran Pilkada nanti. Sama dengan Bandung tadi, bagi warga
Jakarta, Orange adalah PERSIJA dan PERSIJA adalah Jakarta.
Menurut
Saya Tim Sukses PKS Harus Konsisten dengan Materi Gambar Kampanye, Jika merujuk
ke HADE 2008 baik sebelum ada no urut atau sudah ada konsepnya tetap sama.
Terlebih nanti ketika sudah ada No Urut maka harus konsisten hingga ke Gambar
Pencontrengan.
Budaya
lainnya yang dijadikan Pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini adalah
Batik, hal inipun menurut penulis hal cerdas dan tepat untuk dilakukan karena
batik adalah budaya Nasional dan Batik “Ayo Beresin Jakarta” mengangkat corak
batik asli betawi atau batik asli Jakarta.
Ada
satu hal yang perlu Saya ingatkan untuk Tim Sukses Hidayat Nurwahid – Didik J
Rachbini adalah selain pendekatan budaya “SEPAKBOLA” tadi diatas, dan budaya
asli Jakarta lainnya. Ada satu hal yang luput dari pelajaran orang lain soal
kemenangan HADE ditahun 2008, kajian Saya salah satu budaya daerah yang
diangkat oleh Pasangan HADE ditahun 2008 adalah lagu-lagu kampanye yang bernada
“Sunda” sebagai budaya asli Jawa Barat.
Lagu HADE Pisan ini menggebrak dan memang enak
didengar oleh warga Jawa Barat waktu itu, sangat familiar dan menggugah orang
untuk menjatuhkan pilihan. Hal ini pula lah menurut Saya yang menginspirasi
pasangan DADA-AYI pada Pilkada Walikota Bandung tahun 2008 yang lalu setelah
Pilkada Gubernur. Bahkan Dada-Ayi membuat satu Album yang berjudul “DA DA DA”
yang dinyanyikan Doel Sumbang dan diputar hampir tiap hari di TV Lokal Bandung.
Hade Memang dan kemudian Dada-Ayi juga memenangkan Pilkada waktu itu.
Jika
melihat kreatifitas Tim Sukses Hidayat – Didik sudah lumayan bagus
pendekatan seni dan budayan-nya cuma menurut Saya masih belum kuat “rasa”
budaya betawinya. Harus ada lagi lagu-lagu yang ada unsur “Pantun” dan Bahasa
betawinya. Saran Penulis untuk Tim
Sukses Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini bisa membuat Iklan TV atau lagu-lagu
yang bercorak bahasa betawi. Mengandung unsur Pantun dan bahasa betawi
agar lebih terasa kental budayanya. Seperti lagu-lagu yang pernah dinyanyikan
oleh Alm Benyamin S.
Rekam
Jejak Kandidat Hidayat Nurwahid – Didik J Racbini
Faktor
lain terkait meningkatnya elektabilitas Hidayat Nurwahid ini adalah soal rekam jejak positif dan selama ini
dikenal sebagai tokoh Nasional dengan integritas moral yang baik. Apalagi
ukuran ini masih menjadi salah satu standar penilaian dalam masyarakat agamis
seperti di Indonesia.
“Keduanya juga unggul dalam hal moral dan
watak. Fenomena ini menyangkut sesuatu yang baku di masyarakat dan ini kemudian
menjadi harapan masyarakat yang ingin Jakarta menjadi lebih baik,”
papar Firdaus (Kompas.com)
Hal-Hal yang perlu diperhatikan Pasangan Hidayat Nurwahid –Didik J
Rachbini antara lain :
Sosialisasi
Program Kerja Secara Detail & Kontrak Politik
Jakarta
adalah masyarakat yang sudah begitu banyak etnisnya dan begitu plural, selain
faktor figuritas, ketokohan maka yang perlu ditambahkan adalah Isu program
kerja yang rasional. Secara ketokohan dan kebersihan dari isu-isu negative
pasangan Hidayat Nurwahid – Didik J Rachbini sudah lengkap, dua-duanya tokoh
Nasional dan dikenal masyarakat secara luas. Perlu dipertajam lagi detail
program kerja.
Walaupun
Indonesia dalam hal ini Jakarta mungkin saja belum bisa terlepas dari kelompok
masyarakat yang cenderung mendukung sosok yang dicitrakan terzalimi atau
korban. Pemilih di Indonesia disebut sangat menggandrungi melodrama dimana
siapa yang bisa menciptakan “tangisan atau keharuan” dialah yang dapat merebut
hati pemilih. Maka tidak heran buat penulis jika ada kandidat-kandidat
memunculkan diri mereka terzalimi supaya mendapatkan “Tangisan dan
Keharuan”. Tapi masa-masa
sepertinya dari hari kehari mulai terkikis dari Jakarta, Masyarakat semakin
menyandarkan keputusannya pada dua hal : Rasionalitas Program Kerja dan
Spritualitas Kandidat yang akan dipilih.
Inilah beberapa kritik dan Saran untuk
Hidayat-Didik, Jika pendukung Hidayat – Didik berusaha untuk memenangkan satu
putaran PILKADA DKI Jakarta ini sepertinya kerja kerasnya bukan lagi 24 jam
tetapi lebih dari itu, tetapi melihat kekuatan merata Saya melihat PILKADA DKI
Jakarta akan berlangsung dua putaran, Tetapi mungkinkah Hidayat Nurwahid –
Didik J Rachbini memenangkan Pilkada dalam 1 putaran? Mungkin saja jika hal-hal
yang Penulis urai diatas ditingkatkan terus menerus hingga tanggal
pencontrengan. Kita berharap Pemimpin yang terbaik dari ALLAH Swt yang
menjadi Pemimpin. Kita lihat Saja 11 Juli 2012 mendatang. Sumber
Senin, 07 Mei 2012
Dukungan Konkrit Untuk Hidayat Didik dari Arab Saudi “Jauh dimata, dekat dalam kontribusi”
Jumat, 20 April 2012, Pukul 23.00
waktu setempat dan hujan gerimis menjadikan suasana menjadi berkah dan bertempat
di Ummul Hammam- Riyadh, Arab Saudi, Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera (PIP-PKS) Arab Saudi mendeklrasikan pembuatan tim penggalangan dana dan dukungan buat pasangan DKI1 (Hidayat – Didik). Acara penggalangan dana dan dukungan penuh buat Hidayat – Didik merupakan kontribusi proaktif dari kader-kader PKS di Arab Saudi. Kami menyadari walaupun pilkada DKI1 hanya khusus bagi warga DKI Jakarta, namun kebersamaan kami sulit dipisahkan dengan saudara-saudara temen seperjuangan di sana. Ibarat pepatah mengatakan “Jauh Di Mata, Dekat di Hati. Antara Arab Saudi dan Jakarta, Kita Satu Nurani”
Dalam sebuah sambutanya, Ketua PIP PKS Arab Saudi menyampaikan bahwa kalau kader dan seluruh pendukung Hidayat-Didik di Indonesa menggalang dana kampanye “Galibu” (Galang Lima Ribu), maka di Arab Saudi di canangkan kampanye “Galeri” (Galang Lima Riyal). Aksi ini sudah menjadi ‘tradisi’ di partai berlambang bulan sabit, dengan motto yang
sudah tidak asing ‘sunduquna juyubuna’ (sumber dana kita berasal dari saku kita masing-masing).
PIP PKS Arab Saudi telah memberikan amanah melalui SK Penetepan untuk Menjadi Ketua tim Pemenangan Hidayat Didik untuk wilayah Arab Saudi kepada Sdr. Mohammad Kamiludin, Mahasiswa S2 King Saud University Riyadh. Dalam rancangan programnya, Kamil sapaan akrabnya menyampaikan bahwa penggalangan dana akan diadakan dengan berbagai macam cara, diantaranya penggalangan dana rutin pekanan, pegajian akbar, proposal buat kader dan simpatisan, iuran ADK, dan banyak program menarik
lainnya untuk memberikan dukungan kepada Hidayat Didik.
Hadir dalam deklarasi ini Ketua MPW
PIP PKS Arab Saudi yang juga berkesempatan memberikan taujih (pengarahan), Ketua DSW PIP PKS Arab Saudi, Ketua Pembinaan Kader PIP PKS Arab Saudi, Ketua DPD PKS Riyadh, dan kader-kader PKS di Riyadh. Ta’limat (pemberitahuan) acara ini juga insyaAllah sudah diteruskan kepada seluruh DPD-DPD di wilayah Arab Saudi seperti di Jeddah, Makkah, Madinah, Dammam, dan Abha dengan menginstruksikan agar seluruh kader dan simpatisan memberikan dukungan penuh baik dari sisi maal, do’a, dukungan opini dan simpati kepada calon yang diusung yaitu “Hidayat-Didik”. Para kader dan simpatisan di Arab Saudi bergerak untuk memenangkan Hidayat Didik demi Jakarta yang lebih baik dan diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.
Ayo kita Beresin Jakarta ! Allahu Akbar. (tb).
Riyadh, 1 Jumadil Tsani 1433 H
Penyerahan
SK oleh Ketua DSW PIP PKS Arab Saudi, Ustadz Abu Ja’far kepada Mohammad Kamiluddin
Sabtu, 05 Mei 2012
Kader PKS, Sebarkan Berita Baik Partaimu Itu !
Indonesia telah mengakui sepak terjang dalam militansi para kader PKS di
dunia nyata, kegiatan yang tak pernah ada habisnya pun sering
dilakoninya. Tentu hal ini karena mereka mampu meyakinkan diri mereka
masing-masing, bahwa apa yang dikerjakannya itu hanyalah untuk Allah SWT
semata. Bukan untuk partai ataupun sebatas untuk para pemimpinnya. Kejelasan orientasi ini tentu memberikan dampak yang kuat dalam setiap
masa pergerakan dari berbagai kegiatan kader PKS di lapangan. Jangan
sampai menyimpang dari apa yang ditujukan, yaitu ikhlas hanya untuk
Allah SWT.
Namun, militansi pada dunia nyata semestinya juga menjadi penggerak untuk bisa lebih militansi pada dunia maya. Dua hal ini semestinya menjadi acuan bagi para kader PKS untuk lebih bergerak dimanapun medan juangnya.
Sebagaimana kita mengetahui semua, bahwa PKS telah mendeklarasikan tentang perjuangan PKS mencakup juga pada dunia maya, semestinya seluruh elemen kader PKS di Indonesia dan dibelahan dunia manapun menyambutnya dengan semangat yang kuat.
Pada dasarnya kekuatan dunia maya atau internet, merupakan sebuah dunia yang tanpa batas dan ia mampu memberikan informasi pada setiap orang hanya dalam beberapa detik. Informasi itu bisa berbagai informasi apapun, bisa jadi informasi untuk black campaign PKS, ataupun informasi mengenai berita baik dari PKS itu sendiri. Jika diluarsana, banyak orang yang melakukan black campaign kepada PKS melalui internet, harusnya kader PKS sadar untuk bangkit guna meng-counter black campaign tersebut juga melalui internet.
Siapa sangka Obama mempunyai kekuatan yang besar pada saat proses pemilihannya, hal itu semua terletak pada dunia maya yang difasilitasi oleh sosial media, seperti Facebook dan twitter ataupun MySpace, dll. Tetapi, black campaign yang mengarah pada obama juga tidak sedikit yang di update melalui berbagai sosial media tersebut. "Penangkalan" dari black campaign tersebut juga ternyata melalui sosial media.
Jadi, dunia sosial media semestinya menjadi ajang "dakwah" kepartaian para kader PKS. Jangan sampai kader PKS ogah-ogahan dan malas men-share berita-berita baik yang ditujukan kepada PKS. Jika diluar sana ada sekumpulan orang yang memusuhi PKS
dengan begitu bersemangat, semestinya kader PKS juga mempunyai semangat juang yang lebih tinggi daripada orang-orang yang memusuhi PKS tersebut. Karena dalam hal orientasi, kader PKS jelas hanya ikhlas pada Allah SWT, yang tentunya jika "alat" penyebaran dakwah itu dimusuhi maka tak harus balas memusuhi tetapi harus ada balas memberitakan berita yang baik kepada PKS.
Jutaan kader PKS bisa jadi modal yang besar untuk partai ini dalam mengkampanyekan kegiatan yang baik pada partai dakwah tersebut. Jika ada satu berita buruk yang ditujukan kepada PKS, maka mestinya kader PKS yakin masih ada ribuan berita baik yang bisa mereka share atau dibagikan kepada khalayak umum. Jangan pernah malu memberitakan berita yang baik, karena itu adalah syi'ar dalam kebaikan, ini bukan kegiatan individu yang bisa masuk pada penyakit hati (riya'). Karena ini adalah kegiatan sebuah badan/organisasi/partai maka berita baik yang dishare atau yang dibagikan merupakan syi'ar yang utama dalam pemberitaan mengenai partai Islam yang melakukan kegiatan kebaikan. Jika beberapa partai menggunakan modal hartanya, maka semestinya Kader PKS menggunakan modal kebaikannya untuk menarik simpati kepada masyarakat, jangan sampai berita-berita baik itu didiamkan atau bahkan tidak dibagikan kepada khalayak umum sehingga masyarakat tidak mengetahui mengenai kebaikan Partai Dakwah ini (PKS).
"Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik." (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqi)
Sebuah kutipan dari Hadits Rasulullah SAW, bisa menjadi pemicu, bahwa harta tidak akan pernah bisa membeli simpati masyarakat, tetapi wajah yang ikhlas dan perbuatan akhlak yang baik tentu bisa menjadi peruntuh setiap orang yang hatinya keras lantaran hanya karena materi duniawi semata.
Tetapi, ketika berita mengenai wajah yang ikhlas dalam kegiatan baik yang disertai dengan akhlak yang baik itu tidak pernah di beritakan, tidak pernah dishare, tidak pernah dibagikan kepada masyarakat umum, lalu bagaimana orang mengetahui jika PKS itu adalah partai baik ? Jadi, tutuplah berita buruk itu dengan berbagai berita kebaikan. Tidak perlu meladeni mereka yang telah diliputi keburukan prasangkanya karena Allah SWT sebenarnya sudah menutup hati mereka dengan berbagai keburukan untuk selalu melihat keburukan orang/organisasi/partai lain.
Kader PKS tidak perlu meladeni berita yang buruk, tetapi beritakan berita yang baik saja dari berbagai berita baik untuk PKS. Setiap partai/ormas/organisasi ataupun perseorangan mempunyai berbagai "cacat" yang bisa dengan mudah kita mencarinya, tetapi sebagai seorang muslim yang diajarkan untuk selalu mencari hal yang baik, tentu semestinya kader PKS tak harus mencari sisi buruk dari ormas/partai/organisasi yang melakukan perbuatan buruk tersebut.
Jadi, mulai saat ini, seluruh kader PKS harus memulai membagikan/men-share berita baik untuk PKS melalui internet atau sosial media (Facebook, twitter, blog, MySpace, dll), tak perlu mencari keburukan dari mereka yang buruk ! Setujukah ?
Sketsa Abu Jaisy
http://www.suaranews.com/2012/05/kader-pks-sebarkan-berita-baik-partaimu.html
Namun, militansi pada dunia nyata semestinya juga menjadi penggerak untuk bisa lebih militansi pada dunia maya. Dua hal ini semestinya menjadi acuan bagi para kader PKS untuk lebih bergerak dimanapun medan juangnya.
Sebagaimana kita mengetahui semua, bahwa PKS telah mendeklarasikan tentang perjuangan PKS mencakup juga pada dunia maya, semestinya seluruh elemen kader PKS di Indonesia dan dibelahan dunia manapun menyambutnya dengan semangat yang kuat.
Pada dasarnya kekuatan dunia maya atau internet, merupakan sebuah dunia yang tanpa batas dan ia mampu memberikan informasi pada setiap orang hanya dalam beberapa detik. Informasi itu bisa berbagai informasi apapun, bisa jadi informasi untuk black campaign PKS, ataupun informasi mengenai berita baik dari PKS itu sendiri. Jika diluarsana, banyak orang yang melakukan black campaign kepada PKS melalui internet, harusnya kader PKS sadar untuk bangkit guna meng-counter black campaign tersebut juga melalui internet.
Siapa sangka Obama mempunyai kekuatan yang besar pada saat proses pemilihannya, hal itu semua terletak pada dunia maya yang difasilitasi oleh sosial media, seperti Facebook dan twitter ataupun MySpace, dll. Tetapi, black campaign yang mengarah pada obama juga tidak sedikit yang di update melalui berbagai sosial media tersebut. "Penangkalan" dari black campaign tersebut juga ternyata melalui sosial media.
Jadi, dunia sosial media semestinya menjadi ajang "dakwah" kepartaian para kader PKS. Jangan sampai kader PKS ogah-ogahan dan malas men-share berita-berita baik yang ditujukan kepada PKS. Jika diluar sana ada sekumpulan orang yang memusuhi PKS
dengan begitu bersemangat, semestinya kader PKS juga mempunyai semangat juang yang lebih tinggi daripada orang-orang yang memusuhi PKS tersebut. Karena dalam hal orientasi, kader PKS jelas hanya ikhlas pada Allah SWT, yang tentunya jika "alat" penyebaran dakwah itu dimusuhi maka tak harus balas memusuhi tetapi harus ada balas memberitakan berita yang baik kepada PKS.
Jutaan kader PKS bisa jadi modal yang besar untuk partai ini dalam mengkampanyekan kegiatan yang baik pada partai dakwah tersebut. Jika ada satu berita buruk yang ditujukan kepada PKS, maka mestinya kader PKS yakin masih ada ribuan berita baik yang bisa mereka share atau dibagikan kepada khalayak umum. Jangan pernah malu memberitakan berita yang baik, karena itu adalah syi'ar dalam kebaikan, ini bukan kegiatan individu yang bisa masuk pada penyakit hati (riya'). Karena ini adalah kegiatan sebuah badan/organisasi/partai maka berita baik yang dishare atau yang dibagikan merupakan syi'ar yang utama dalam pemberitaan mengenai partai Islam yang melakukan kegiatan kebaikan. Jika beberapa partai menggunakan modal hartanya, maka semestinya Kader PKS menggunakan modal kebaikannya untuk menarik simpati kepada masyarakat, jangan sampai berita-berita baik itu didiamkan atau bahkan tidak dibagikan kepada khalayak umum sehingga masyarakat tidak mengetahui mengenai kebaikan Partai Dakwah ini (PKS).
"Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik." (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqi)
Sebuah kutipan dari Hadits Rasulullah SAW, bisa menjadi pemicu, bahwa harta tidak akan pernah bisa membeli simpati masyarakat, tetapi wajah yang ikhlas dan perbuatan akhlak yang baik tentu bisa menjadi peruntuh setiap orang yang hatinya keras lantaran hanya karena materi duniawi semata.
Tetapi, ketika berita mengenai wajah yang ikhlas dalam kegiatan baik yang disertai dengan akhlak yang baik itu tidak pernah di beritakan, tidak pernah dishare, tidak pernah dibagikan kepada masyarakat umum, lalu bagaimana orang mengetahui jika PKS itu adalah partai baik ? Jadi, tutuplah berita buruk itu dengan berbagai berita kebaikan. Tidak perlu meladeni mereka yang telah diliputi keburukan prasangkanya karena Allah SWT sebenarnya sudah menutup hati mereka dengan berbagai keburukan untuk selalu melihat keburukan orang/organisasi/partai lain.
Kader PKS tidak perlu meladeni berita yang buruk, tetapi beritakan berita yang baik saja dari berbagai berita baik untuk PKS. Setiap partai/ormas/organisasi ataupun perseorangan mempunyai berbagai "cacat" yang bisa dengan mudah kita mencarinya, tetapi sebagai seorang muslim yang diajarkan untuk selalu mencari hal yang baik, tentu semestinya kader PKS tak harus mencari sisi buruk dari ormas/partai/organisasi yang melakukan perbuatan buruk tersebut.
Jadi, mulai saat ini, seluruh kader PKS harus memulai membagikan/men-share berita baik untuk PKS melalui internet atau sosial media (Facebook, twitter, blog, MySpace, dll), tak perlu mencari keburukan dari mereka yang buruk ! Setujukah ?
Sketsa Abu Jaisy
http://www.suaranews.com/2012/05/kader-pks-sebarkan-berita-baik-partaimu.html
Hidayat Nurwahid Sudah Biasa Naik Kereta Api ke Yogyakarta
Saya bukan warga DKI, dan tidak akan ikut memilih dalam prosesi Pilgub
DKI. Namun saya ikut senang mendengar pak Hidayat Nurwahid maju menjadi
salah satu calon. Secara pribadi saya tidak terlalu mengenal beliau,
namun saya pernah beberapa kali berinteraksi secara langsung secara
tidak sengaja.
Interaksi yang cukup mengejutkan saya adalah saat beliau menjabat sebagai Ketua MPR RI. Saya pernah diajak oleh seorang teman menjemput pak Hidayat di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Saya hampir tidak percaya bahwa seorang Ketua MPR naik kereta api Senja Utama kelas bisnis, dari Jakarta menuju Yogyakarta untuk menengok ibunda di Prambanan.
Biasa Naik Kereta Api Senja Utama Kelas Bisnis
Ternyata benar. Beliau naik kereta api Senja Utama kelas bisnis, bersama seluruh anggota keluarga, yaitu isteri dan anak-anak. Saya benar-benar merasa kagum atas sikap yang sangat bersahaja dan sederhana tersebut. Tidak ada ajudan atau staf pribadi yang mendampingi atau menemani, tidak ada protokoler penyambutan di stasiun kereta api. Pak Hidayat diantar dengan mobil Kijang dari stasiun Tugu menuju Prambanan.
Dua hari beliau menengok ibu di Prambanan, saat kembali ke Jakarta beliau juga menggunakan kereta api Senja Utama kelas bisnis. Bukan kereta api kelas eksekutif, bukan pula pesawat terbang. Benar-benar bersahaja. Salah seorang teman yang ikut mengantar beliau ke stasiun Tugu menjelaskan, bahwa begitulah kehidupan keseharian pak Hidayat. Apa yang dilakukan itu bersifat alami, tidak dibuat-buat untuk mencari sensasi atau agar disorot media. Toh nyatanya tidak ada satupun media memberitakan kebiasaan pak Hidayat naik kereta api kelas bisnis ini.
Kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali, namun sering dilakukan pak Hidayat bersama keluarga. Berbeda dengan beberapa kalangan pejabat yang tidak pernah naik kereta api, namun sekalinya naik KRL langsung disorot media dan diberitakan sampai sebulan. Membuat citra seakan-akan pejabat yang merakyat dan sederhana. Pak Hidayat jauh dari sikap dan perilaku seperti itu. Beliau naik kereta api Senja Utama bukan untuk mencari popularitas, bukan karena kampanye, namun memang demikianlah jiwanya mengajarkan untuk hidup sederhana.
Casing HP Pecah
Sangat banyak kisah kehidupan keseharian pak Hidayat. Salah satunya saya dapatkan dari seorang teman yang pernah menjadi asisten beliau saat menjadi Ketua MPR. Teman ini bercerita, suatu ketika diminta pak Hidayat membelikan lem alteco. Tanpa bertanya kegunaan lem tersebut, sang asisten langsung pergi membelikan.
Setelah lem diserahkan ke pak Hidayat, sang asisten penasaran, digunakan untuk apa lem tersebut. Maka diam-diam ia menyelinap masuk ke ruang kerja pak Hidayat. Betapa terkejut sang asisten menyaksikan pak Hidayat menggunakan lem tersebut untuk memperbaiki casing HP beliau yang retak karena terjatuh.
Ia tidak menyangka, seorang politisi senior, seorang Ketua MPR, masing mengurus casing HP yang pecah. Bukan membeli casing baru, atau membeli HP baru, namun membeli lem untuk memperbaiki casing yang pecah. Lagi-lagi, kejadian seperti ini tidak pernah masuk pemberitaan media massa. Kehidupan beliau sangat sepi dari publisitas. Beliau melakukan segala aktivitas secara alami, tanpa kemasan branding, atau menyewa konsultan untuk memperbaiki penampilan atau membayar media planner untuk mengatur tampilan beliau di media.
Semua berjalan sangat alami, tanpa sentuhan entertainment. Itulah sosok sederhana Hidayat Nurwahid yang sempat saya kenal.
Menjadi Calon Gubernur DKI
Karena telah berbekal sedikit informasi mengenai pribadi pak Hidayat yang sangat bersahaja, saya tidak heran ketika membaca detik.news tanggal 25 April 2012 kemarin yang memberitakjan salah satu aktivitas pak Hidayat sebagai salah satu calon Gubernur DKI. Detik.news memberitakan pak Hidayat Nurwahid menjajal transportasi Ibukota untuk menyerap aspirasi warga. Ia rela antre membeli tiket dan bergelayutan di atas KRL Commuter Line dan bus TransJakarta.
Hidayat tiba di Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (25/4/2012) sekitar pukul 10.00 WIB. Hidayat mengenakan batik motif Monas warna oranye diberi tiket kereta Rp 6.500 oleh tim suksesnya. Ia menyapa penumpang yang tengah menanti kedatangan kereta.
Di dalam KRL Commuter Line, Hidayat memilih berdiri. Padahal, ada beberapa kursi yang kosong. Hidayat menanyakan keluh kesah para penumpang kereta. Sejumlah penumpang lalu menumpahkan unek-uneknya. "Kalau bisa kereta ditambah, biar tidak ada penumpukan dan keterlambatan," ujar seorang pria penumpang KRL.
Menanggapi keluhan itu, Hidayat mengaku KRL masih sangat kurang di Jakarta. "Kemarin, sudah ada penambahan KRL 20 rangkaian. Namun, rasionalnya untuk mencapai target penumpang 1,2 juta diperlukan penambahan KRL lagi, mungkin 1.440 KRL lagi. Kalau itu dipenuhi, dibutuhkan anggaran hampir Rp 1 triliun dan itu bukan ukuran yang besar untuk APBD DKI," papar pak Hidayat.
Menurut dia, penambahan gerbong dapat menjadi solusi dan efektif untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. "Kita akan memenuhi secara bertahap sehingga angka 1.440 bisa terpenuhi dan bisa mengangkut 1,2 juta orang per hari," janjinya. Ia mengusulkan agar Pemprov DKI melakukan komunikasi yang intensif dengan KAI seperti dengan membuat anak perusahaan KAI. "Intinya, DKI harus siap supaya bisa secepat mungkin sediakan sarana transportasi yang cukup baik supaya tidak ada keterlambatan dan penumpukan penumpang," kata Hidayat.
Bus TransJakarta
Setelah naik KRL Commuter Line, Hidayat lalu bergegas naik bus TransJakarta dari Halte Gambir menuju Halte Harmoni. Ia juga memilih bergelayutan dan berbaur dengan penumpang busway lainnya. Hidayat juga menampung aspirasi para penumpang bus TransJakarta.
Hidayat kemudian turun di Halte Dukuh Atas. Di halte inilah, Hidayat mengantre karcis Rp 3.500 untuk menuju halte Warung Jati. "Nggak (capek ngantre) karena dari dulu manusia jalanan. Sejak tahun 1962 naik bus, metromini termasuk bajaj dan itu sudah biasa, tidak merasa capek," kata Hidayat.
Menurut dia, Jakarta seharusnya menyiapkan transportasi yang nyaman dan tidak menumpuk seperti ini.
http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/28/hidayat-nurwahid-sudah-biasa-naik-kereta-api-ke-yogyakarta/
Interaksi yang cukup mengejutkan saya adalah saat beliau menjabat sebagai Ketua MPR RI. Saya pernah diajak oleh seorang teman menjemput pak Hidayat di stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta. Saya hampir tidak percaya bahwa seorang Ketua MPR naik kereta api Senja Utama kelas bisnis, dari Jakarta menuju Yogyakarta untuk menengok ibunda di Prambanan.
Biasa Naik Kereta Api Senja Utama Kelas Bisnis
Ternyata benar. Beliau naik kereta api Senja Utama kelas bisnis, bersama seluruh anggota keluarga, yaitu isteri dan anak-anak. Saya benar-benar merasa kagum atas sikap yang sangat bersahaja dan sederhana tersebut. Tidak ada ajudan atau staf pribadi yang mendampingi atau menemani, tidak ada protokoler penyambutan di stasiun kereta api. Pak Hidayat diantar dengan mobil Kijang dari stasiun Tugu menuju Prambanan.
Dua hari beliau menengok ibu di Prambanan, saat kembali ke Jakarta beliau juga menggunakan kereta api Senja Utama kelas bisnis. Bukan kereta api kelas eksekutif, bukan pula pesawat terbang. Benar-benar bersahaja. Salah seorang teman yang ikut mengantar beliau ke stasiun Tugu menjelaskan, bahwa begitulah kehidupan keseharian pak Hidayat. Apa yang dilakukan itu bersifat alami, tidak dibuat-buat untuk mencari sensasi atau agar disorot media. Toh nyatanya tidak ada satupun media memberitakan kebiasaan pak Hidayat naik kereta api kelas bisnis ini.
Kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali, namun sering dilakukan pak Hidayat bersama keluarga. Berbeda dengan beberapa kalangan pejabat yang tidak pernah naik kereta api, namun sekalinya naik KRL langsung disorot media dan diberitakan sampai sebulan. Membuat citra seakan-akan pejabat yang merakyat dan sederhana. Pak Hidayat jauh dari sikap dan perilaku seperti itu. Beliau naik kereta api Senja Utama bukan untuk mencari popularitas, bukan karena kampanye, namun memang demikianlah jiwanya mengajarkan untuk hidup sederhana.
Casing HP Pecah
Sangat banyak kisah kehidupan keseharian pak Hidayat. Salah satunya saya dapatkan dari seorang teman yang pernah menjadi asisten beliau saat menjadi Ketua MPR. Teman ini bercerita, suatu ketika diminta pak Hidayat membelikan lem alteco. Tanpa bertanya kegunaan lem tersebut, sang asisten langsung pergi membelikan.
Setelah lem diserahkan ke pak Hidayat, sang asisten penasaran, digunakan untuk apa lem tersebut. Maka diam-diam ia menyelinap masuk ke ruang kerja pak Hidayat. Betapa terkejut sang asisten menyaksikan pak Hidayat menggunakan lem tersebut untuk memperbaiki casing HP beliau yang retak karena terjatuh.
Ia tidak menyangka, seorang politisi senior, seorang Ketua MPR, masing mengurus casing HP yang pecah. Bukan membeli casing baru, atau membeli HP baru, namun membeli lem untuk memperbaiki casing yang pecah. Lagi-lagi, kejadian seperti ini tidak pernah masuk pemberitaan media massa. Kehidupan beliau sangat sepi dari publisitas. Beliau melakukan segala aktivitas secara alami, tanpa kemasan branding, atau menyewa konsultan untuk memperbaiki penampilan atau membayar media planner untuk mengatur tampilan beliau di media.
Semua berjalan sangat alami, tanpa sentuhan entertainment. Itulah sosok sederhana Hidayat Nurwahid yang sempat saya kenal.
Menjadi Calon Gubernur DKI
Karena telah berbekal sedikit informasi mengenai pribadi pak Hidayat yang sangat bersahaja, saya tidak heran ketika membaca detik.news tanggal 25 April 2012 kemarin yang memberitakjan salah satu aktivitas pak Hidayat sebagai salah satu calon Gubernur DKI. Detik.news memberitakan pak Hidayat Nurwahid menjajal transportasi Ibukota untuk menyerap aspirasi warga. Ia rela antre membeli tiket dan bergelayutan di atas KRL Commuter Line dan bus TransJakarta.
Hidayat tiba di Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (25/4/2012) sekitar pukul 10.00 WIB. Hidayat mengenakan batik motif Monas warna oranye diberi tiket kereta Rp 6.500 oleh tim suksesnya. Ia menyapa penumpang yang tengah menanti kedatangan kereta.
Di dalam KRL Commuter Line, Hidayat memilih berdiri. Padahal, ada beberapa kursi yang kosong. Hidayat menanyakan keluh kesah para penumpang kereta. Sejumlah penumpang lalu menumpahkan unek-uneknya. "Kalau bisa kereta ditambah, biar tidak ada penumpukan dan keterlambatan," ujar seorang pria penumpang KRL.
Menanggapi keluhan itu, Hidayat mengaku KRL masih sangat kurang di Jakarta. "Kemarin, sudah ada penambahan KRL 20 rangkaian. Namun, rasionalnya untuk mencapai target penumpang 1,2 juta diperlukan penambahan KRL lagi, mungkin 1.440 KRL lagi. Kalau itu dipenuhi, dibutuhkan anggaran hampir Rp 1 triliun dan itu bukan ukuran yang besar untuk APBD DKI," papar pak Hidayat.
Menurut dia, penambahan gerbong dapat menjadi solusi dan efektif untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. "Kita akan memenuhi secara bertahap sehingga angka 1.440 bisa terpenuhi dan bisa mengangkut 1,2 juta orang per hari," janjinya. Ia mengusulkan agar Pemprov DKI melakukan komunikasi yang intensif dengan KAI seperti dengan membuat anak perusahaan KAI. "Intinya, DKI harus siap supaya bisa secepat mungkin sediakan sarana transportasi yang cukup baik supaya tidak ada keterlambatan dan penumpukan penumpang," kata Hidayat.
Bus TransJakarta
Setelah naik KRL Commuter Line, Hidayat lalu bergegas naik bus TransJakarta dari Halte Gambir menuju Halte Harmoni. Ia juga memilih bergelayutan dan berbaur dengan penumpang busway lainnya. Hidayat juga menampung aspirasi para penumpang bus TransJakarta.
Hidayat kemudian turun di Halte Dukuh Atas. Di halte inilah, Hidayat mengantre karcis Rp 3.500 untuk menuju halte Warung Jati. "Nggak (capek ngantre) karena dari dulu manusia jalanan. Sejak tahun 1962 naik bus, metromini termasuk bajaj dan itu sudah biasa, tidak merasa capek," kata Hidayat.
Menurut dia, Jakarta seharusnya menyiapkan transportasi yang nyaman dan tidak menumpuk seperti ini.
http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/28/hidayat-nurwahid-sudah-biasa-naik-kereta-api-ke-yogyakarta/
Rabu, 18 April 2012
Pelayanan Kesehatan Gratis DPRa
Ini Hasil Dokumentasi Pelayanan Kesehatan DPRa Rambutan Ahad, 15 April 2012
Setelah Malam Ikhwan Rambutan melakukan "Operasi Tiang Listrik" branding Hidayat - Didik. Paginya dilanjutkan dengan Direct Selling sekaligus Pembagian leaflet undangan Pelkes Gratis di RW 02 Rambutan kediaman Bapak Ahmilu Taufik, Berkut Dokumentasinya :
Setelah Malam Ikhwan Rambutan melakukan "Operasi Tiang Listrik" branding Hidayat - Didik. Paginya dilanjutkan dengan Direct Selling sekaligus Pembagian leaflet undangan Pelkes Gratis di RW 02 Rambutan kediaman Bapak Ahmilu Taufik, Berkut Dokumentasinya :
Ayo Beresin Jakarta...!
www.hidayatdidik.net
Langganan:
Postingan (Atom)


































